Seminar BEM KM ITY : Mempertegas Peran Sektor Pertambangan dalam Agenda Dekarbonisasi Nasional

Seminar BEM KM ITY : Mempertegas Peran Sektor Pertambangan dalam Agenda Dekarbonisasi Nasional

08 Oct 2026       41

Yogyakarta — Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta (BEM KM ITY) bersama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) ITY sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk "From Fossil To Future: Peran Sektor Pertambangan Dalam Agenda Dekarbonisasi Nasional". Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrid, bertempat di Auditorium Grhatama Pusaka Yogyakarta serta disiarkan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 1 Oktober 2026. 

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua Panitia Seminar Nasional, Fizel, Kepala Program Studi Teknik Pertambangan, Andi Pranajati, ST.,MT serta Rektor ITY, Prof. Dr. Ir. H. Chafid Fandeli, MS. Dalam sambutannya, Prof. Chafid Fandeli menekankan pentingnya pengelolaan pertambangan yang berwawasan lingkungan. Beliau menggarisbawahi perlunya langkah net zero emission serta pemulihan lahan bekas tambang melalui penanaman kembali vegetasi lokal yang sesuai. Di sisi lain, peran mahasiswa dipandang sangat penting untuk membawa perubahan nyata yang didukung oleh ilmu, data, dan integritas.

Dalam seminar tersebut Dr. Ing. Tri Winarno, ST.,MT Direktorat Pembinaan Program Mineral dan Baatubara, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubata Kementeriaan Energi dan Sumber Daya Mineral menjadi keynote speaker. Materi yang disampaikan terkait dengan "Peran Sektor Pertambangan dalam Agenda Dekarbonisasi Nasional". 

 

Transisi Energi dan Transformasi Sektor Pertambangan

Hadir sebagai narasumber pertama, Agung Pratomo, S.T., yang merupakan Manager PLN UP3 Yogyakarta dan Wonosari memaparkan bahwa proses transisi energi menuju net zero emission 2060 merupakan upaya bertahap yang tetap harus menjaga ketahanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan. Pengurangan batu bara dilakukan melalui skema phase down seiring pesatnya pengembangan energi terbarukan.

Agung menegaskan bahwa sektor pertambangan memiliki peran strategis ganda: selain sebagai penyedia energi selama masa transisi, sektor ini juga memasok mineral kritikal (seperti nikel dan tembaga) yang dibutuhkan untuk pembuatan baterai, panel surya, hingga infrastruktur energi bersih. Pertambangan sendiri terus bertransformasi melalui elektrifikasi operasional, pemanfaatan lahan pascatambang untuk PLTS atau biomassa, serta efisiensi karbon.

Langkah Konkret Dekarbonisasi di Sektor Pertambangan

Narasumber kedua, Ir. Mekka Riadhah, ST, MAB, IPM, yang merupakan Environmental Sustainability Departement Head PT Adaro Indonesia. Beliau membagikan pengalaman penerapan dekarbonisasi berbasis roadmap yang sistematis. Proses ini dimulai dari pemetaan emisi dan efisiensi rantai operasional hingga inovasi seperti Fleet Management System, elektrifikasi pompa, penggunaan drone, pengoperasian kendaraan listrik tambang, dan pembangunan PLTS.

Ir. Mekka juga menekankan konsep circular economy pada lahan pascatambang, misalnya pemanfaatan lahan untuk PLTS terapung maupun budidaya biomassa untuk co-firing. Menurutnya, keberhasilan dekarbonisasi tidak hanya bertumpu pada teknologi, melainkan juga pada energy management system, budaya inovasi pekerja, serta komitmen manajemen.

Berdasarkan seminar ini, transisi menuju energi bersih tidak berarti meninggalkan sektor pertambangan. Dengan efisiensi energi, digitalisasi, elektrifikasi, dan pemanfaatan lahan pascatambang secara produktif, sektor pertambangan justru menjadi pilar utama dalam mendukung terwujudnya agenda dekarbonisasi nasional dan keberlanjutan masa depan. (Humas ITY/Agustina/Siera)